Hi Twisters!

TwiscJournal adalah tulisan pemilik Twisctre.com secara pribadi. Beberapa serial TwiscJournal sebelumnya sudah membahas tentang situs ini dan cerita di dalamnya. Ke depannya, akan lebih banyak ulasan tentang isu terkini di luar politik.

Twisctre didirikan dengan semangat millenials, pemiliknya generasi bisa dibilang millenial juga. Berbeda dengan beberapa media yang tetap dipegang generasi X-Y sebagai pimpinan utama. Pemilik Twisctre bukan cuma mengerti kalangan millenial zaman now, tetapi juga ada di dalamnya!

Tujuan gue buat Twisctre.com juga memasukkan sisi-sisi cerita orang, tips, yang belum ada orang menulisnya, padahal penting banget. Contohnya, tulisan soal cara naik lift - seems absurd, tapi itu datang dari pengalaman gue salah masuk ketika naik lift di Menara BCA. Baru sadar gara-gara tidak terlihat berhenti di lantai 38.

Lanjut! Sekarang gue sedang mengembangkan cara menulis yang runut, padat, namun tulisannya ringan dan tentu jumlah katanya tidak banyak. Ini mulai berlaku di semua media tempat gue menulis. Intinya, tulisan superpanjang hanya disajikan pada keadaan khusus.

Untuk media online, tentu tulisan yang compact seperti itu yang sangat-sangat dicari. Tidak bertele-tele namun menjawab permasalahan. Atas dasar ini Twisctre.com dibikin, mencarikan solusi buat masalah dengan cara sesingkat mungkin dan seenak mungkin dibaca.

Kenapa tulisan zaman sekarang modelnya begitu juga, termasuk di Twisctre?

1. Minat Baca Kurang
Ya, seperti sering digaungkan Najwa Shihab sang duta baca Indonesia, minat baca masyarakat sini kurang. Nah, tentu kalau begini, diberikan artikel paragraf panjang bisa nggak masuk. Sampai-sampai seorang pakar blogger, Mas Sugeng, menyarankan jangan tulis paragraf panjang. (sumber)

Untuk mendorong minat baca, makanya masyarakat harus diberi yang singkat dulu. Yang panjang-panjang seperti buku baru diberikan kalau sudah terbiasa baca artikel pendek.

2. Solusi Cepat
Sering orang membuka Google karena kepepet, butuh solusi dalam waktu cepat kalau perlu kilat. Contohnya cari tahu tentang masalah komputer. Kalau tidak cepat bisa wassalam itu komputer. Kadang juga soal cara menuju ke suatu tempat, anehnya sudah dekat baru Googling/buka Google Maps.

Kalau artikelnya kepanjangan, habis waktu mereka di baca doang. Masalahnya bukannya selesai malah tambah parah.

3. Waktu Baca Terbatas
Nggak jauh beda dengan kebutuhan akan solusi cepat. Orang sekarang supersibuk, ada yang jarang baca media online juga. Nah, dengan waktu yang terbatas dimiliki orang, kita harus bisa memasukkan sesuatu ke dalam kepala mereka. Tulisannya saja dipersingkat.

4. Waktu Tulis Terbatas
Kesibukan gue mengelola media lain dan padatnya jadwal belakangan membuat gue juga harus menulis berpacu dengan waktu. Bagaimana biar bisa seimbang semuanya. Susah banget, iya, tapi integrasi media dan urusan gue yang lain harus dilakukan.

Oleh karena itu, gue menulis poin-poinnya aja di situs ini. Pendek aja, seperti gue ngobrol dengan orang namun dengan mengurangi bahasa gaul/bahasa percakapan supaya enak dibaca. Namun, isinya juga harus compact. Menjawab semua kemauan pembaca.

Kalau caranya gimana? Wah, ntar aja deh gue ajarin. Hehehehe. Intinya, butuh waktu sih dalam belajar menulis singkat tapi padat. Tulisan singkat namun nggak sesingkat status dan komentar Facebook dan viral Line. Belajar dan jalani aja ya.

Baca juga tulisan lain di serial TwiscJournal. Nantikan ya setiap Jumat atau Sabtu dinihari!
  1. Twisctre Itu Apaan Sih?
  2. Memulai Kembali (1st post)

Kenapa Tulisan Zaman Sekarang Pendek-Pendek (termasuk Twisctre)?

Sebagai salah satu metode analisis permasalahan paling populer dan paling mudah, tetap saja ada kesulitan ketika mengisi analisis SWOT ini.


Analisis SWOT dalam 5 tahun ke belakang menemukan popularitasnya. Banyak perusahaan menggunakan SWOT dalam memecahkan masalahnya. Dalam rekrutmen, kadang orang yang mendaftar ke suatu perusahaan diminta membuat analisis SWOT. 

Hal ini terjadi karena dengan SWOT, kita bisa memisahkan mana tantangan dari dalam diri atau dari luar. Hebatnya, SWOT juga tetap membedakan mana sisi negatif dan mana sisi positif. Tidak heran kalau semakin terkenal, apalagi tidak diberikan patokan dalam pembuatannya.

Namun, kadang-kadang ada yang bingung atau langsung malas mendengar nama analisis SWOT ini. Dari yang tidak tahu menulis apa, sampai ada yang merasa terlalu banyak poin SWOT yang ditulis. Nah Twisters, kalau kamu sering bingung dengan SWOT ini, Twisctre.com akan kasih solusi singkat buat 5 masalah paling umum ini! 

1. Bingung Mau Tulis Apa


Seringkali tugas analisis SWOT tidak terlalu jelas. Maksudnya, ketika diberikan, tidak diberitahu SWOT yang harus ditulis temanya apa. Tidak diberitahu juga batasan analisis SWOT. Nah, ini sering membuat bingung/buntu seseorang ketika membuat analisis SWOT.

Kadang-kadang, kebingungan ini juga gara-gara kita sudah "lupa" dengan kepribadian sendiri. Sudah tahu, tapi bingung cara menuliskannya. Padahal beberapa hal terjadi sehari-hari, contohnya "tidak sabaran" yang termasuk weakness, sering dialami ketika menghadapi lalu lintas padat.

Solusinya, coba ingat 4 hal yang sering bahkan wajib dilakukan. Kemudian ingat cara kamu melakukan hal tersebut Twisters. Contoh: aku sering mandi pagi, kalau mandi buru-buru karena tidak mau telat ke kantor. Dari situ, sudah bisa didapat 2 sifat diri: tidak sabaran dan tepat waktu. 

Kemudian dari situ, coba cari tantangan dari luar. Dari contoh di atas: kantor aku jauh, dari Bogor ke Jakarta. Bosku sebenarnya santai, tapi dia tidak toleransi keterlambatan. Dari sini saja sudah bisa ketahuan 3 tantangan luar: rumah jauh, bos santai, dan kantor tidak boleh terlambat.

Kalau Twisters mau menggali lebih dalam lagi, lama-lama lembar analisis SWOT kamu bisa penuh lho.

2. Membedakan Strength, Weakness, Opportunity, Threat


Meskipun analisis SWOT ini sudah banyak digunakan, tetapi banyak yang sering tertukar-tukar baik antara Strength dengan Opportunity, ataupun Weakness dengan Threat. 

Supaya mudah dibedakan, Twisters harus tahu, SWOT dibagi menjadi 2 bagian:
  1. Keuntungan - untung atau rugi: Strength vs Weakness, Opportunity vs Threat
  2. Sumber - dari dalam atau dari luar diri: Strength vs Opportunity, Weakness vs Threat

Saat membuat analisis SWOT, selalu ingat dua poin ini supaya tidak terbalik-balik. Paling sering terbalik adalah pembedaan SWOT berdasarkan sumber: mana dari dalam dan mana dari luar. Untuk membedakan mana yang strength dan opportunity, tanyakan dalam hati: apa hal ini aku saja yang lakukan atau malah orang lain? 

Pastikan juga yang mau digolongkan ke Opportunity/Threat ada dari luar. Contohnya: pastikan suasana kerja di kantor yang santai benar-benar kantornya yang santai, bukan kamunya yang kerja malas-malasan.

3. Terlalu Banyak atau Sedikit

Karena analisis SWOT bersifat pribadi, setiap orang bisa menuliskan SWOT dengan gaya berbeda-beda. Ada yang bisa menulis sangat panjang, dan sangat sedikit. Lalu, patokannya seberapa banyak?

Twisctre.com cuma bisa bilang begini ke Twisters: semua tergantung kebutuhan perusahaan atau klien/orang yang menyuruh membuat. Namun, disarankan untuk setidaknya memenuhi 50% dari setiap kolom kalau dibuat dengan tulisan tangan. Hal terpenting dalam analisis SWOT adalah bobot dari SWOT itu, bukan seberapa banyak yang bisa dituliskan.

4. Esai atau Poin-poin

Sering ada pertanyaan: "Kak, menulis analisis SWOT harus esai atau poin-poin?" Memang benar, bertanya dulu sebelum tersesat.... Soalnya, mengenai cara menceritakan SWOT tergantung dari masing-masing perusahaan atau orang yang menyuruh kamu membuat.

Namun, Twisctre.com menyarankan Twisters untuk membuatnya dalam bentuk poin-poin supaya enak dibaca. Terutama kalau disuruhnya bebas. Sebab, zaman sekarang, orang sudah cukup malas baca esai panjang-panjang dan lebar-lebar.

5. Poin yang Tidak Penting

Setelah melihat poin 3, pasti ada yang merasa ada poin yang harus dihilangkan di analisis SWOT karena dirasa kepanjangan. Ya kali kan Twisters, hanya analisis SWOT sederhana yang diminta hanya 4 halaman, untuk Strength saja sudah habis 2 halaman. Sebanyak-banyaknya poin yang bisa diceritakan, kita juga harus efisien.

Untuk melihat poin tidak penting ini, tentukan tema analisisnya apa. Sebuah analisis SWOT pribadi yang dipakai buat melamar kerja di perusahaan bonafide sebaiknya tidak mencantumkan hal yang menjadi urusan pribadi keluarga (ranah privat). Ini bisa membantu untuk menghapus poin SWOT yang tidak nyambung. Ini mirip dengan membuat CV.

Cek juga, kalau ada poin tertentu yang sebenarnya sama dan bisa diringkas. Contohnya, "memiliki mobil 2, punya rumah 2, punya tanah di Jakarta 1000 m2" bisa disingkat dengan "memiliki harta cukup: 2 mobil, 2 rumah, tanah Jakarta 1000 m2".



Nah, seharusnya sekarang Twisters tidak bingung lagi dalam membuat analisis SWOT. Seharusnya di zaman sekarang, menganalisis dengan SWOT sudah harus dikuasai berhubung penggunaannya sangat banyak di berbagai lini perusahaan. Bahkan di dunia kampus juga sering diajarkan cara membuat SWOT.

Selamat menulis! Kalau ada yang ditanyakan, Twisters bisa isi di kolom komentar.

5 Kesulitan Utama Ketika Bikin Analisis SWOT


Karena lantainya yang sangat banyak, gedung-gedung pencakar langit di Ibukota pada akhirnya tidak lagi menggunakan lift yang kita tentukan lantainya di dalam. Sehingga, kita harus menentukan lantai mana yang dituju sebelum masuk lift.

Gedung-gedung pencakar langit seperti Menara BCA, Wisma 46, Gedung UOB, GKBI, dan hampir semua gedung berlantai di atas 25 sudah menggunakan sistem lift baru. Lift ini bernama Schindler Miconic 10. Bagi yang pertama kali menggunakannya akan kaget karena di dalam lift tidak ada tombol lantai sama sekali. Padahal teknologi ini sudah ada sejak tahun 90an, sejak rekor gedung terpecahkan oleh Wisma 46.

Twisters pasti nggak mau kesasar kan? Apalagi menurut beberapa orang yang bekerja di gedung pencakar langit, sekali salah naik bisa harus turun lagi ke lantai dasar! Jadi, Twisctre.com akan ajarkan cara naik lift model begini, berhubung cukup banyak masyarakat Ibukota dan kota besar lain yang beraktivitas di gedung berlantai banyak.

1. Jangan Salah Masuk Lift!

Sebelum masuk lift, sangat-sangat disarankan bertanya dulu ke petugas: lift mana yang harus digunakan. Soalnya, banyak gedung yang menggunakan zonasi lantai. Contohnya Zone 1 lantai dasar-lantai 30, Zone 2 lantai 31-50. Kalau salah masuk lift, tidak akan sampai lantai tujuan, berhubung lift lantai 31-50 akan meloncati lantai 1-30 dan lift lantai 1-30 tidak melayani tujuan lantai 31-50.

Kalau tidak sampai tujuan, mau tidak mau harus mengulangi dari lantai paling bawah.

Umumnya, penunjuk menuju lantai tertentu cukup jelas. Contoh di Menara BCA yang punya 3 zona lift: zona 1 (1-28) ada di dekat kumpulan ATM BCA, zona 2 (29-40) ada di sebelah kiri papan penunjuk nama kantor, dan zona 3 (41-56) jelas terdapat penunjuk ke restoran Skye (lantai 56). Pastikan tidak salah masuk!

2. Temukan Papan Seperti Keypad

Setelah masuk, cari papan berbentuk seperti ini.


Papan keypad ini digunakan buat menekan lantai tujuan. Hati-hati, kalau buru-buru kadang papan ini nggak terlihat, akibatnya ya bisa main masuk lift.

3. Tekan Lantai Tujuan

Kalau sudah ketemu papan keypad, tekan lantai yang kamu mau. Contoh, mau ke lantai 38 tekan angka 3 dan 8 sampai di layar ada angka 38. Kalau kamu pengguna kursi roda, bisa juga tekan tombol kursi roda. Nanti di layar akan muncul angka 4 terbalik, Twisters.

Di gedung-gedung tertentu, ada lantai negatif yang berarti lantai dasar. Biasanya ini dilakukan dengan menekan "tanda bintang" di bawah angka 7, lalu tekan angka lantai yang dituju. Contoh lantai -2 atau lantai dasar dengan tekan "bintang" lalu tekan 2.

Di beberapa gedung, seperti di hotel dan beberapa perkantoran, ada yang dengan menyentuhkan visitor card/kartu tamu ke alat pembaca langsung ketahuan mau ke lantai berapa. Sebab lantai yang dituju sudah di-input ke kartu tamu.

4. Naik Lift Sesuai Huruf di Papan Keypad

Setelah menekan lantai yang dituju, jangan asal naik lift Twisters. Contoh setelah kamu tekan angka 38 keluar huruf G, maka kamu harus naik lift G. Jangan naik lift H sekalipun lift yang itu yang kebetulan terbuka.

Video Tutorial

Dengan keamanan tingkat tinggi yang diterapkan gedung-gedung, agak sulit merekam cara naik lift ini, bahkan termasuk oleh beberapa YouTuber maniak lift. [Jangan salah, ada yang menjadikan lift ini hobi seperti halnya kereta api dan mobil.] Namun, Twisctre.com berhasil mendapatkan video tutorial ini, untuk membantu memahami naik lift model baru ini.


Semoga tips naik lift ini bermanfaat bagi kamu, Twisters! Apalagi sekarang sedang ramai orang cari kerja atau lamar kerja, dan bisa jadi pertama kalinya berkenalan dengan sistem lift unik seperti ini. Jangan sampai ketidaktahuan cara pakai lift mengacaukan kegiatanmu!

Cara Pakai Lift Gedung Tinggi Jakarta: Beda dengan Lift Biasa

Karena teknologi radio ini belum siap di Indonesia, seringkali disalahartikan sebagai teknologi radio lewat streaming yang sudah marak selama hampir 10 tahun di Indonesia. Radio digital sangat berbeda.

Teknologi FM sudah sangat meraja di Indonesia selama puluhan tahun terakhir. Setelah pada tahun 1990an radio-radio papan atas yang bertengger di frekuensi AM pindah ke FM, di masa depan ada kemungkinan pindah radio massal ke siaran radio digital. Tentu alasannya sama, peningkatan kualitas audio yang dibagikan ke pendengar.

Pada tahun 2000an akhir, sekitar 2008-2009, mulai marak radio melalui internet di Indonesia, seiring tumbuhnya penggunaan dunia maya. Teknologi radio melalui Internet ini menjanjikan kualitas lebih mulus dibanding via FM, tentunya bisa didengar di manapun dan kapanpun.

Menurut salah satu CEO radio papan atas ibukota, Indonesia hanya belum siap dalam menghadapi perpindahan ke radio digital. Sehingga suatu saat, Indonesia juga akan melakukan perpindahan besar-besaran siaran dari FM ke digital. Suatu saat, siaran DAB akan marak di Indonesia - dari yang sekarang masih hanya RRI.

Inilah kenapa kita perlu mengetahui perbedaan radio digital dengan radio internet/radio streaming. Keduanya sama-sama teknologi baru dan menggunakan media digital, namun jauh berbeda. Inilah bedanya.

Tidak Perlu Koneksi Internet


Radio digital atau DAB tidak membutuhkan koneksi Internet dalam menyampaikan suara. Sementara radio streaming yang selama ini kita kenal tentu menghabiskan data atau kuota Internet, sebab untuk mengaksesnya tentu dibutuhkan Internet. Tentu teknologi radio digital sangat menjanjikan dengan kondisi Internet di Indonesia yang sering dinilai buruk.

Karena tidak menggunakan data Internet, siaran radio digital bisa ditangkap tanpa terputus (dengan alasan internet yang lambat). Namun, tetap siaran digital sampai ke telinga pendengar agak terlambat jika dibandingkan dengan radio analog dan kondisi aktual di studio.

Channel Tersedia Tergantung Kota



Radio digital seperti halnya radio FM, memiliki batasan pancar. Sebab, pemancaran DAB juga melalui tower/menara pemancar seperti radio FM. Oleh sebab itu, di tiap kota, saluran yang akan kita peroleh melalui perangkat DAB bisa berbeda. Namun "hilang sinyal" pada teknologi DAB berbeda dengan FM, karena tidak mengeluarkan suara kresek-kresek yang membuat sakit telinga.

Sementara kita semua tahu, radio melalui internet bisa didengarkan kapanpun, di manapun, selama ada koneksi Internet.

Butuh Gadget Tersendiri

Untuk menikmati siaran radio online, cukup menggunakan telepon pintar atau komputer yang terhubung internet. Sementara siaran radio DAB butuh perangkat khusus seperti radio FM pada zaman dahulu. Perangkat penangkap DAB inilah yang sempat membuat kembali maraknya radio bentuk kotak, salah satunya di Inggris Raya/UK.

Lebih Sederhana

Meskipun namanya terdengar keren, namun radio digital memiliki tampilan sesederhana radio FM. Hal yang membedakan dengan FM hanyalah tidak ada bilangan frekuensi radio (87.6, 101.0), adanya informasi nama radio dan berita/informasi yang disampaikan di bawah nama radio.

Sementara radio streaming bisa membuat situs radionya tergantung si pemilik, dan itu tidak sesederhana radio digital.

Lebih Dahulu Diciptakan 

Teknologi radio digital ditemukan tahun 1980an dan pertama kali dirilis tahun 1995. Sementara penyiaran suara melalui Internet baru dimulai tahun 1993 dan digunakan untuk stasiun radio pada 1996. Jadi, jelas siapa yang paling duluan.

Jadi, sudah pahamkah perbedaan dua teknologi radio terbaru ini? Semoga dalam waktu dekat Indonesia sudah siap bersiaran di DAB+, setelah RRI sudah membuat saluran digital. Namun jangan pernah lupakan jasa AM dan FM, juga semoga dua frekuensi ini tidak dihapuskan karena masih diperlukan pada keadaan tertentu.

Radio Digital Berbeda dengan Radio Streaming

Contoh daftar pustaka.
Mungkin beberapa ada yang sudah mengetahui ini, baik dari teman atau bahkan mengalami sendiri saat dunia perkuliahan atau sekolah. Sumber-sumber ini dilarang kebanyakan gara-gara akurasinya diragukan. Apalagi kalau bicara tentang akun-akun anonim.

Terlepas dari informasi yang didapatkan dari sana bagus, bahkan bisa menjadi rujukan satu-satunya, tetap saja sumber-sumber pustaka ini nggak boleh digunakan Twisters. Maksudnya digunakan untuk referensi pustaka di karya ilmiah. Jadi Twisters, kamu harus baca dulu artikel ini sebelum mengutip untuk artikel ilmiah, supaya karya yang kamu capek-capek buat nggak disobek dosen.

1. Wikipedia

Kopi darat Wikipedia di Depok (Wikipedia)


Wikipedia dilarang digunakan sebagai sumber karya ilmiah gara-gara akurasinya diragukan. Maksudnya begini, Wikipedia diedit oleh orang-orang dari latar belakang berbeda dan tidak semuanya merupakan ahli di bidangnya. Editor Wikipedia pada kasus tertentu juga tidak terlalu memperhatikan masalah pada artikel, sehingga banyak artikel Wikipedia bermasalah yang belum terjamah editor.

Wikipedia sendiri juga tidak menyarankan penggunaan ensiklopedia seperti di sini (sumber). Bahkan disebutkan ensiklopedia juga dilarang digunakan, termasuk versi cetak. Kemungkinan karena ilmunya kurang mendalam dan sumbernya tidak disebutkan mendetail. Belum lagi masalah kelengkapan informasi.

Namun, pelarangan Wikipedia sebagai sumber dinilai orang sebagai usaha agar siswa/mahasiswa tidak malas membaca dan bisa mengetahui sumber asli - di Wikipedia pasti terdapat rujukan footnote yang kalau diklik menuju sumber asli seperti buku dan jurnal ilmiah. Sehingga, Wikipedia sebagai rangkuman dan sumber di footnote sebagai rujukan dengan dasar ilmiah kuat.

Yang jelas Twisters, Wikipedia harus menjadi sumber pustaka, kalau skripsi atau makalahnya membahas Wikipedia itu sendiri. Contohnya Pengaruh Wikipedia Terhadap Buku Ensiklopedia.

2. Blog (Blogspot/Wordpress)

Salah satu foto viral sekitar 8 tahun lalu mengenai kemiripan spanduk di atas dengan kata kasar (singindo)

Blog pribadi seperti Wordpress dan Blogspot dilarang untuk digunakan karena alasan mirip dengan Wikipedia. Keduanya sama-sama tidak memiliki landasan akademis cukup kuat untuk digunakan sebagai rujukan online.

Blog malah lebih lemah keabsahannya dari Wikipedia. Wikipedia memiliki sistem kontrol artikel yang bermasalah atau rawan diubah-ubah, juga memiliki pengawasan terhadap artikel yang tidak lengkap sampai terancam dihapus. Sementara blog tidak memiliki sistem tersebut, sehingga kita bisa meragukan keabsahan dari konten blog tersebut. Apalagi zaman sekarang banyak blog abal-abal.

Sekalipun blog tersebut digunakan untuk pengunduhan karya ilmiah dan laporan praktikum, tidak disarankan untuk digunakan. Kalau memang sulit mencari sumber lagi, sebaiknya langsung melakukan pengutipan tanpa embel-embel alamat blog. Hal ini juga bisa dilakukan ke sumber yang berasal dari Scribd atau situs penyedia karya ilmiah lainnya.

Seperti Wikipedia tadi, kita bisa mengecualikan penggunaan blog tersebut kalau memang blog tersebut merupakan objek kajian dari makalah kita, karena jatuhnya mirip kalau kita sedang ingin mengkaji perilaku pengguna media sosial. Pada dasarnya Blogspot dan lain sebagainya juga media sosial kok.

3. Pencarian Google

Halaman lama Google (Wordstream)


Pada zaman Internet baru mewabah di Indonesia, ada beberapa orang mengutip langsung sumber yang diambil dari Google Image dengan (sumber: google). Hal ini tidak boleh dilakukan mengingat Google adalah mesin pencari, bukan penyedia konten.

Kalau mau mengutip sumber yang dicari di Google, biasakan mengklik lihat gambar dan buka halaman webnya. Sehingga, yang menjadi rujukan di karya ilmiah bukan Mbah Google, namun sumber yang kita klik tadi.

4. Forum (Kaskus, Detik, dll)

Overposting Kaskus (Ehikmawan)
Kaskus tidak boleh menjadi rujukan pada suatu karya ilmiah, begitu juga forum lain. Pengawasan terhadap forum-forum ini dan keabsahan informasinya sering dianggap lemah, karena disebarkan oleh orang yang bukan pakar di bidang tersebut. Apalagi kalau sumbernya anonim. Kalau merujuk pada thread di Kaskus, gunakan sumber yang ada dicantumkan oleh thread starter (TS).

Kecuali makalahnya menganalisis debat kusir di Kaskus dengan penggunaan sampel postingan di salah satu thread.

5. Media Sosial (FB, Twitter, Line, dll)

Otak Ajinomoto, salah satu meme teranyar di Line. (ImgRum)


Sekali lagi, ini juga dilarang karena masalah keabsahan informasi dan penyampai yang belum tentu praktisi di bidangnya (kita tidak tahu benar latar belakangnya, berbeda dengan makalah dan jurnal). Sekali lagi, pengecualian jika kita ingin menganalisis perilaku pengguna media sosial, tentu link menuju kiriman di media sosial harus dicantumkan.

6. Media Opini (Kompasiana, Seword, Selasar, Opini.id, Quora, dll)

Quora (Observer.com)
Dengan alasan sama, media opini dilarang digunakan karena sistem moderasi yang tidak terjamin dan keabsahan informasi yang kurang. Selain itu, media opini juga belum tentu ditulis oleh orang yang pakar di bidangnya dan memahami betul apa yang menjadi bidangnya. Media opini juga kurang mendalam untuk pembahasan artikel ilmiah, sehingga tidak cocok dimasukkan sebagai referensi karya ilmiah.

Untuk rujukan dari Quora, meskipun latar belakang penulis cukup jelas di jawaban diskusi Quora, pada dasarnya Quora belum didukung benar dengan bukti ilmiah. Sebaiknya, setelah membaca jawaban di Quora, kita harus cari tahu si penulis jawaban menyampaikan opininya dari mana sumbernya.

7. Media Berita Online (Not Recommended)

Pemilik Detikcom (maxmanroe)
Sebenarnya, mengutip dari Detikcom, Kompas, atau situs beri online yang diakui Dewan Pers tidak salah. Sebab, terdapat nama dari wartawan penulisnya yang bisa dimintai pertanggung jawaban, ada juga pemred (pemimpin redaksi). Namun, berhubung informasi yang disajikan tidak mendalam dan tidak seperti artikel ilmiah, tidak disarankan untuk digunakan sebagai rujukan kecuali untuk mengutip artikel berita.

Artikel politik atau bencana alam tentu boleh dikutip karena memberitakan kondisi lapangan, namun artikel indepth seperti "Menurut Penelitian, HP Memancarkan Radiasi" tidak disarankan dijadikan rujukan ilmiah.

Sudah jelas bukan? Sehingga, hati-hati kalau bikin kutipan buat makalah Twisters! Jangan sampai kesalahanmu merugikan akademismu! Meskipun standar kampus atau sekolah beda-beda, tetapi tetap gunakan panduan rujukan terlarang itu untuk karya ilmiah.

Sumber-Sumber Terlarang untuk Karya Ilmiah, Makalah, dan Skripsi


Seorang bernama Yana Teddy bersama keluarganya berhasil melakukan perjalanan dari Indonesia sampai Belanda. Dengan keadaan mobil berdebu dan menggunakan tempelan unik Right Hand Drive di balik mobilnya, mobil mereka terparkir di sebuah tempat di Belanda.

Hal ini viral karena akun Line milik Adila Clevana A membuat posting tentang kegiatan om dan tantenya tersebut. Dalam post tersebut, Adila menjelaskan perjalanan Yana dari Indonesia sampai ke Belanda. Perjalanan yang benar-benar mengemudi adalah Singapura-Malaysia dan Kamboja-Belanda, karena perjalanan Indonesia (Jakarta)-Singapura dan Malaysia ke Kamboja melalui laut.


Adila sebagai pemilik akun Line tidak ikut dalam perjalanan ini. Melalui post Line di atas, Adila hanya memberitakan kegiatan om dan tantenya yang menyupir jarak jauh. Menurut salah satu komentator di post tersebut, sebenarnya cukup banyak plat lokal Indonesia di Belanda. Akan tetapi, jarang yang menyupir langsung dari Indonesia ke Belanda, berhubung masih bisa menggunakan jalur laut untuk mengirimkan mobil tersebut. Jasa jalur laut ini kerap disebut forwarder.


Perjalanan 4 Bulan

Sesi perjalanan lalu lintas kiri dilakukan dari Singapura ke Malaysia dan perjalanan di Jakarta saja. Selebihnya, dari Kamboja sampai ke Belanda sepenuhnya lalu lintas kanan, terbalik dengan di Indonesia. Tantangan ini tentu membuat Yana Teddy agak kesulitan dalam mengendarai mobilnya, sampai harus ditempelkan stiker Right Hand Drive untuk membuat pengendara lain maklum dengan mobil asing tersebut.

Total perjalanan ini memakan waktu 3 bulan dari 13 Mei, dan tanpa jalur laut dari 30 Mei sampai 11 Agustus 2017. Sehingga yang benar-benar melalui jalur darat tanpa terputus memakan waktu 2 bulan 13 hari. Perjalanan agak dipercepat dengan penggunaan jalur laut dan udara karena keterbatasan waktu visa yang diberikan oleh pemerintah China.

Rute Perjalanan

Saat Twisctre.com menurunkan artikel ini, Yana Teddy sedang melakukan upload untuk foto-foto lama mereka di Instagram @indoasiaeuro_bycar . Akun tersebut direncanakan menjadi catatan perjalanan dari Yana Teddy selama berkelana dengan mobil B 1891 PLO tersebut. Mereka akan meneruskan perjalanannya ke Eropa Tengah, Turki, dan Asia Tengah. Ditargetkan kembali ke Indonesia pada bulan November.

Tidak dijelaskan bagaimana mereka akan mengakhiri perjalanan di Indonesia, berhubung ada pilihan melalui pulau Sumatera atau kembali lewat Malaysia-Singapura. Saat mengawali perjalanan meninggalkan Indonesia, Yana Teddy mengakui bahwa pilihan mengurangi menyupir dari Indonesia sampai Kamboja ketimbang lewat Sumatera karena mengejar waktu visa yang terbatas di China.

Pada saat pergi, negara yang disebutkan dilalui adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Kamboja, Laos (mereka tidak melalui Vietnam seperti disebut Adila), China, Rusia, Finlandia, Norwegia, Swedia, dan mengakhiri perjalanan di Belanda. Akan tetapi, Twisctre.com masih menunggu update dari akun Instagram Yana Teddy.

Banyak Tantangan

Tantangan yang ditemui tergolong banyak berhubung perjalanan ini sangat jauh. Mobil yang dikendarai Om Teddy (berhubung Tante Yana tidak bisa mengemudi) beberapa kali berganti spare parts, oli, dan tentu mengisi bensin berulang kali. 


Di foto ini, terlihat cukup jelas bawaan yang masuk mobil adalah pakaian yang berkoper-koper, spare parts, oli cadangan, dan semua perlengkapan darurat untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan. Dengan persiapan begini, kadang masih memerlukan transaksi membeli kebutuhan di negara lain.

Selain bawaan segudang dan masalah ketahanan mobil, salah satu masalah utama adalah sedikitnya visa kendara yang diberikan pemerintah China, hanya 9 hari berkendara dari perbatasan Laos ke perbatasan Rusia, di mana jarak tersebut kira-kira 3900 km. Jarak tersebut sejauh Banda Aceh ke Dili (Timor Leste), jarak terjauh di negara Indonesia yang bisa ditempuh hanya dengan menyeberang selat (tanpa lewat lautan luas). Namun yang membedakan di China, tidak ada jeda lautan sama sekali dengan jarak sejauh itu.

Masalah lain adalah perizinan atau membuat mobil Indonesia bisa lari di negara orang. Hal ini sebenarnya sudah diurus oleh pihak agensi/tour yang diajak kerjasama oleh Yana Teddy. Prosedur ini berbeda untuk setiap negara yang dilalui.

Masalah terakhir yang cukup signifikan adalah transaksi dengan mata uang asing dan masalah komunikasi. Mereka selalu menggunakan USD (dollar AS) utamanya untuk transaksi, namun setiap singgah di negara tertentu, mereka menukar uang menjadi mata uang setempat. Untuk komunikasi, mereka menggunakan SIM Card Indonesia sampai ke China, namun sejak Rusia sampai kawasan Eropa menggunakan SIM Card baru, berhubung perjalanan yang sangat panjang melalui kawasan Eropa tersebut.

Saat ini, mereka masih membuka pertanyaan dan dukungan melalui Instagram @indoasiaeuro_bycar dan melalui post Line Adila, keponakan Yana Teddy. Ada juga beberapa forum yang membahas kegiatan ini.

Marilah kita terus dukung orang-orang yang berusaha mengharumkan nama bangsa di luar negeri!

Yana Teddy Menyupir Mobil dari Jakarta ke Belanda