Sebagai salah satu metode analisis permasalahan paling populer dan paling mudah, tetap saja ada kesulitan ketika mengisi analisis SWOT ini.


Analisis SWOT dalam 5 tahun ke belakang menemukan popularitasnya. Banyak perusahaan menggunakan SWOT dalam memecahkan masalahnya. Dalam rekrutmen, kadang orang yang mendaftar ke suatu perusahaan diminta membuat analisis SWOT. 

Hal ini terjadi karena dengan SWOT, kita bisa memisahkan mana tantangan dari dalam diri atau dari luar. Hebatnya, SWOT juga tetap membedakan mana sisi negatif dan mana sisi positif. Tidak heran kalau semakin terkenal, apalagi tidak diberikan patokan dalam pembuatannya.

Namun, kadang-kadang ada yang bingung atau langsung malas mendengar nama analisis SWOT ini. Dari yang tidak tahu menulis apa, sampai ada yang merasa terlalu banyak poin SWOT yang ditulis. Nah Twisters, kalau kamu sering bingung dengan SWOT ini, Twisctre.com akan kasih solusi singkat buat 5 masalah paling umum ini! 

1. Bingung Mau Tulis Apa


Seringkali tugas analisis SWOT tidak terlalu jelas. Maksudnya, ketika diberikan, tidak diberitahu SWOT yang harus ditulis temanya apa. Tidak diberitahu juga batasan analisis SWOT. Nah, ini sering membuat bingung/buntu seseorang ketika membuat analisis SWOT.

Kadang-kadang, kebingungan ini juga gara-gara kita sudah "lupa" dengan kepribadian sendiri. Sudah tahu, tapi bingung cara menuliskannya. Padahal beberapa hal terjadi sehari-hari, contohnya "tidak sabaran" yang termasuk weakness, sering dialami ketika menghadapi lalu lintas padat.

Solusinya, coba ingat 4 hal yang sering bahkan wajib dilakukan. Kemudian ingat cara kamu melakukan hal tersebut Twisters. Contoh: aku sering mandi pagi, kalau mandi buru-buru karena tidak mau telat ke kantor. Dari situ, sudah bisa didapat 2 sifat diri: tidak sabaran dan tepat waktu. 

Kemudian dari situ, coba cari tantangan dari luar. Dari contoh di atas: kantor aku jauh, dari Bogor ke Jakarta. Bosku sebenarnya santai, tapi dia tidak toleransi keterlambatan. Dari sini saja sudah bisa ketahuan 3 tantangan luar: rumah jauh, bos santai, dan kantor tidak boleh terlambat.

Kalau Twisters mau menggali lebih dalam lagi, lama-lama lembar analisis SWOT kamu bisa penuh lho.

2. Membedakan Strength, Weakness, Opportunity, Threat


Meskipun analisis SWOT ini sudah banyak digunakan, tetapi banyak yang sering tertukar-tukar baik antara Strength dengan Opportunity, ataupun Weakness dengan Threat. 

Supaya mudah dibedakan, Twisters harus tahu, SWOT dibagi menjadi 2 bagian:
  1. Keuntungan - untung atau rugi: Strength vs Weakness, Opportunity vs Threat
  2. Sumber - dari dalam atau dari luar diri: Strength vs Opportunity, Weakness vs Threat

Saat membuat analisis SWOT, selalu ingat dua poin ini supaya tidak terbalik-balik. Paling sering terbalik adalah pembedaan SWOT berdasarkan sumber: mana dari dalam dan mana dari luar. Untuk membedakan mana yang strength dan opportunity, tanyakan dalam hati: apa hal ini aku saja yang lakukan atau malah orang lain? 

Pastikan juga yang mau digolongkan ke Opportunity/Threat ada dari luar. Contohnya: pastikan suasana kerja di kantor yang santai benar-benar kantornya yang santai, bukan kamunya yang kerja malas-malasan.

3. Terlalu Banyak atau Sedikit

Karena analisis SWOT bersifat pribadi, setiap orang bisa menuliskan SWOT dengan gaya berbeda-beda. Ada yang bisa menulis sangat panjang, dan sangat sedikit. Lalu, patokannya seberapa banyak?

Twisctre.com cuma bisa bilang begini ke Twisters: semua tergantung kebutuhan perusahaan atau klien/orang yang menyuruh membuat. Namun, disarankan untuk setidaknya memenuhi 50% dari setiap kolom kalau dibuat dengan tulisan tangan. Hal terpenting dalam analisis SWOT adalah bobot dari SWOT itu, bukan seberapa banyak yang bisa dituliskan.

4. Esai atau Poin-poin

Sering ada pertanyaan: "Kak, menulis analisis SWOT harus esai atau poin-poin?" Memang benar, bertanya dulu sebelum tersesat.... Soalnya, mengenai cara menceritakan SWOT tergantung dari masing-masing perusahaan atau orang yang menyuruh kamu membuat.

Namun, Twisctre.com menyarankan Twisters untuk membuatnya dalam bentuk poin-poin supaya enak dibaca. Terutama kalau disuruhnya bebas. Sebab, zaman sekarang, orang sudah cukup malas baca esai panjang-panjang dan lebar-lebar.

5. Poin yang Tidak Penting

Setelah melihat poin 3, pasti ada yang merasa ada poin yang harus dihilangkan di analisis SWOT karena dirasa kepanjangan. Ya kali kan Twisters, hanya analisis SWOT sederhana yang diminta hanya 4 halaman, untuk Strength saja sudah habis 2 halaman. Sebanyak-banyaknya poin yang bisa diceritakan, kita juga harus efisien.

Untuk melihat poin tidak penting ini, tentukan tema analisisnya apa. Sebuah analisis SWOT pribadi yang dipakai buat melamar kerja di perusahaan bonafide sebaiknya tidak mencantumkan hal yang menjadi urusan pribadi keluarga (ranah privat). Ini bisa membantu untuk menghapus poin SWOT yang tidak nyambung. Ini mirip dengan membuat CV.

Cek juga, kalau ada poin tertentu yang sebenarnya sama dan bisa diringkas. Contohnya, "memiliki mobil 2, punya rumah 2, punya tanah di Jakarta 1000 m2" bisa disingkat dengan "memiliki harta cukup: 2 mobil, 2 rumah, tanah Jakarta 1000 m2".



Nah, seharusnya sekarang Twisters tidak bingung lagi dalam membuat analisis SWOT. Seharusnya di zaman sekarang, menganalisis dengan SWOT sudah harus dikuasai berhubung penggunaannya sangat banyak di berbagai lini perusahaan. Bahkan di dunia kampus juga sering diajarkan cara membuat SWOT.

Selamat menulis! Kalau ada yang ditanyakan, Twisters bisa isi di kolom komentar.

5 Kesulitan Utama Ketika Bikin Analisis SWOT

Sebagai salah satu metode analisis permasalahan paling populer dan paling mudah, tetap saja ada kesulitan ketika mengisi analisis SWOT ini.


Analisis SWOT dalam 5 tahun ke belakang menemukan popularitasnya. Banyak perusahaan menggunakan SWOT dalam memecahkan masalahnya. Dalam rekrutmen, kadang orang yang mendaftar ke suatu perusahaan diminta membuat analisis SWOT. 

Hal ini terjadi karena dengan SWOT, kita bisa memisahkan mana tantangan dari dalam diri atau dari luar. Hebatnya, SWOT juga tetap membedakan mana sisi negatif dan mana sisi positif. Tidak heran kalau semakin terkenal, apalagi tidak diberikan patokan dalam pembuatannya.

Namun, kadang-kadang ada yang bingung atau langsung malas mendengar nama analisis SWOT ini. Dari yang tidak tahu menulis apa, sampai ada yang merasa terlalu banyak poin SWOT yang ditulis. Nah Twisters, kalau kamu sering bingung dengan SWOT ini, Twisctre.com akan kasih solusi singkat buat 5 masalah paling umum ini! 

1. Bingung Mau Tulis Apa


Seringkali tugas analisis SWOT tidak terlalu jelas. Maksudnya, ketika diberikan, tidak diberitahu SWOT yang harus ditulis temanya apa. Tidak diberitahu juga batasan analisis SWOT. Nah, ini sering membuat bingung/buntu seseorang ketika membuat analisis SWOT.

Kadang-kadang, kebingungan ini juga gara-gara kita sudah "lupa" dengan kepribadian sendiri. Sudah tahu, tapi bingung cara menuliskannya. Padahal beberapa hal terjadi sehari-hari, contohnya "tidak sabaran" yang termasuk weakness, sering dialami ketika menghadapi lalu lintas padat.

Solusinya, coba ingat 4 hal yang sering bahkan wajib dilakukan. Kemudian ingat cara kamu melakukan hal tersebut Twisters. Contoh: aku sering mandi pagi, kalau mandi buru-buru karena tidak mau telat ke kantor. Dari situ, sudah bisa didapat 2 sifat diri: tidak sabaran dan tepat waktu. 

Kemudian dari situ, coba cari tantangan dari luar. Dari contoh di atas: kantor aku jauh, dari Bogor ke Jakarta. Bosku sebenarnya santai, tapi dia tidak toleransi keterlambatan. Dari sini saja sudah bisa ketahuan 3 tantangan luar: rumah jauh, bos santai, dan kantor tidak boleh terlambat.

Kalau Twisters mau menggali lebih dalam lagi, lama-lama lembar analisis SWOT kamu bisa penuh lho.

2. Membedakan Strength, Weakness, Opportunity, Threat


Meskipun analisis SWOT ini sudah banyak digunakan, tetapi banyak yang sering tertukar-tukar baik antara Strength dengan Opportunity, ataupun Weakness dengan Threat. 

Supaya mudah dibedakan, Twisters harus tahu, SWOT dibagi menjadi 2 bagian:
  1. Keuntungan - untung atau rugi: Strength vs Weakness, Opportunity vs Threat
  2. Sumber - dari dalam atau dari luar diri: Strength vs Opportunity, Weakness vs Threat

Saat membuat analisis SWOT, selalu ingat dua poin ini supaya tidak terbalik-balik. Paling sering terbalik adalah pembedaan SWOT berdasarkan sumber: mana dari dalam dan mana dari luar. Untuk membedakan mana yang strength dan opportunity, tanyakan dalam hati: apa hal ini aku saja yang lakukan atau malah orang lain? 

Pastikan juga yang mau digolongkan ke Opportunity/Threat ada dari luar. Contohnya: pastikan suasana kerja di kantor yang santai benar-benar kantornya yang santai, bukan kamunya yang kerja malas-malasan.

3. Terlalu Banyak atau Sedikit

Karena analisis SWOT bersifat pribadi, setiap orang bisa menuliskan SWOT dengan gaya berbeda-beda. Ada yang bisa menulis sangat panjang, dan sangat sedikit. Lalu, patokannya seberapa banyak?

Twisctre.com cuma bisa bilang begini ke Twisters: semua tergantung kebutuhan perusahaan atau klien/orang yang menyuruh membuat. Namun, disarankan untuk setidaknya memenuhi 50% dari setiap kolom kalau dibuat dengan tulisan tangan. Hal terpenting dalam analisis SWOT adalah bobot dari SWOT itu, bukan seberapa banyak yang bisa dituliskan.

4. Esai atau Poin-poin

Sering ada pertanyaan: "Kak, menulis analisis SWOT harus esai atau poin-poin?" Memang benar, bertanya dulu sebelum tersesat.... Soalnya, mengenai cara menceritakan SWOT tergantung dari masing-masing perusahaan atau orang yang menyuruh kamu membuat.

Namun, Twisctre.com menyarankan Twisters untuk membuatnya dalam bentuk poin-poin supaya enak dibaca. Terutama kalau disuruhnya bebas. Sebab, zaman sekarang, orang sudah cukup malas baca esai panjang-panjang dan lebar-lebar.

5. Poin yang Tidak Penting

Setelah melihat poin 3, pasti ada yang merasa ada poin yang harus dihilangkan di analisis SWOT karena dirasa kepanjangan. Ya kali kan Twisters, hanya analisis SWOT sederhana yang diminta hanya 4 halaman, untuk Strength saja sudah habis 2 halaman. Sebanyak-banyaknya poin yang bisa diceritakan, kita juga harus efisien.

Untuk melihat poin tidak penting ini, tentukan tema analisisnya apa. Sebuah analisis SWOT pribadi yang dipakai buat melamar kerja di perusahaan bonafide sebaiknya tidak mencantumkan hal yang menjadi urusan pribadi keluarga (ranah privat). Ini bisa membantu untuk menghapus poin SWOT yang tidak nyambung. Ini mirip dengan membuat CV.

Cek juga, kalau ada poin tertentu yang sebenarnya sama dan bisa diringkas. Contohnya, "memiliki mobil 2, punya rumah 2, punya tanah di Jakarta 1000 m2" bisa disingkat dengan "memiliki harta cukup: 2 mobil, 2 rumah, tanah Jakarta 1000 m2".



Nah, seharusnya sekarang Twisters tidak bingung lagi dalam membuat analisis SWOT. Seharusnya di zaman sekarang, menganalisis dengan SWOT sudah harus dikuasai berhubung penggunaannya sangat banyak di berbagai lini perusahaan. Bahkan di dunia kampus juga sering diajarkan cara membuat SWOT.

Selamat menulis! Kalau ada yang ditanyakan, Twisters bisa isi di kolom komentar.

No comments:

Post a Comment