Contoh daftar pustaka.
Mungkin beberapa ada yang sudah mengetahui ini, baik dari teman atau bahkan mengalami sendiri saat dunia perkuliahan atau sekolah. Sumber-sumber ini dilarang kebanyakan gara-gara akurasinya diragukan. Apalagi kalau bicara tentang akun-akun anonim.

Terlepas dari informasi yang didapatkan dari sana bagus, bahkan bisa menjadi rujukan satu-satunya, tetap saja sumber-sumber pustaka ini nggak boleh digunakan Twisters. Maksudnya digunakan untuk referensi pustaka di karya ilmiah. Jadi Twisters, kamu harus baca dulu artikel ini sebelum mengutip untuk artikel ilmiah, supaya karya yang kamu capek-capek buat nggak disobek dosen.

1. Wikipedia

Kopi darat Wikipedia di Depok (Wikipedia)


Wikipedia dilarang digunakan sebagai sumber karya ilmiah gara-gara akurasinya diragukan. Maksudnya begini, Wikipedia diedit oleh orang-orang dari latar belakang berbeda dan tidak semuanya merupakan ahli di bidangnya. Editor Wikipedia pada kasus tertentu juga tidak terlalu memperhatikan masalah pada artikel, sehingga banyak artikel Wikipedia bermasalah yang belum terjamah editor.

Wikipedia sendiri juga tidak menyarankan penggunaan ensiklopedia seperti di sini (sumber). Bahkan disebutkan ensiklopedia juga dilarang digunakan, termasuk versi cetak. Kemungkinan karena ilmunya kurang mendalam dan sumbernya tidak disebutkan mendetail. Belum lagi masalah kelengkapan informasi.

Namun, pelarangan Wikipedia sebagai sumber dinilai orang sebagai usaha agar siswa/mahasiswa tidak malas membaca dan bisa mengetahui sumber asli - di Wikipedia pasti terdapat rujukan footnote yang kalau diklik menuju sumber asli seperti buku dan jurnal ilmiah. Sehingga, Wikipedia sebagai rangkuman dan sumber di footnote sebagai rujukan dengan dasar ilmiah kuat.

Yang jelas Twisters, Wikipedia harus menjadi sumber pustaka, kalau skripsi atau makalahnya membahas Wikipedia itu sendiri. Contohnya Pengaruh Wikipedia Terhadap Buku Ensiklopedia.

2. Blog (Blogspot/Wordpress)

Salah satu foto viral sekitar 8 tahun lalu mengenai kemiripan spanduk di atas dengan kata kasar (singindo)

Blog pribadi seperti Wordpress dan Blogspot dilarang untuk digunakan karena alasan mirip dengan Wikipedia. Keduanya sama-sama tidak memiliki landasan akademis cukup kuat untuk digunakan sebagai rujukan online.

Blog malah lebih lemah keabsahannya dari Wikipedia. Wikipedia memiliki sistem kontrol artikel yang bermasalah atau rawan diubah-ubah, juga memiliki pengawasan terhadap artikel yang tidak lengkap sampai terancam dihapus. Sementara blog tidak memiliki sistem tersebut, sehingga kita bisa meragukan keabsahan dari konten blog tersebut. Apalagi zaman sekarang banyak blog abal-abal.

Sekalipun blog tersebut digunakan untuk pengunduhan karya ilmiah dan laporan praktikum, tidak disarankan untuk digunakan. Kalau memang sulit mencari sumber lagi, sebaiknya langsung melakukan pengutipan tanpa embel-embel alamat blog. Hal ini juga bisa dilakukan ke sumber yang berasal dari Scribd atau situs penyedia karya ilmiah lainnya.

Seperti Wikipedia tadi, kita bisa mengecualikan penggunaan blog tersebut kalau memang blog tersebut merupakan objek kajian dari makalah kita, karena jatuhnya mirip kalau kita sedang ingin mengkaji perilaku pengguna media sosial. Pada dasarnya Blogspot dan lain sebagainya juga media sosial kok.

3. Pencarian Google

Halaman lama Google (Wordstream)


Pada zaman Internet baru mewabah di Indonesia, ada beberapa orang mengutip langsung sumber yang diambil dari Google Image dengan (sumber: google). Hal ini tidak boleh dilakukan mengingat Google adalah mesin pencari, bukan penyedia konten.

Kalau mau mengutip sumber yang dicari di Google, biasakan mengklik lihat gambar dan buka halaman webnya. Sehingga, yang menjadi rujukan di karya ilmiah bukan Mbah Google, namun sumber yang kita klik tadi.

4. Forum (Kaskus, Detik, dll)

Overposting Kaskus (Ehikmawan)
Kaskus tidak boleh menjadi rujukan pada suatu karya ilmiah, begitu juga forum lain. Pengawasan terhadap forum-forum ini dan keabsahan informasinya sering dianggap lemah, karena disebarkan oleh orang yang bukan pakar di bidang tersebut. Apalagi kalau sumbernya anonim. Kalau merujuk pada thread di Kaskus, gunakan sumber yang ada dicantumkan oleh thread starter (TS).

Kecuali makalahnya menganalisis debat kusir di Kaskus dengan penggunaan sampel postingan di salah satu thread.

5. Media Sosial (FB, Twitter, Line, dll)

Otak Ajinomoto, salah satu meme teranyar di Line. (ImgRum)


Sekali lagi, ini juga dilarang karena masalah keabsahan informasi dan penyampai yang belum tentu praktisi di bidangnya (kita tidak tahu benar latar belakangnya, berbeda dengan makalah dan jurnal). Sekali lagi, pengecualian jika kita ingin menganalisis perilaku pengguna media sosial, tentu link menuju kiriman di media sosial harus dicantumkan.

6. Media Opini (Kompasiana, Seword, Selasar, Opini.id, Quora, dll)

Quora (Observer.com)
Dengan alasan sama, media opini dilarang digunakan karena sistem moderasi yang tidak terjamin dan keabsahan informasi yang kurang. Selain itu, media opini juga belum tentu ditulis oleh orang yang pakar di bidangnya dan memahami betul apa yang menjadi bidangnya. Media opini juga kurang mendalam untuk pembahasan artikel ilmiah, sehingga tidak cocok dimasukkan sebagai referensi karya ilmiah.

Untuk rujukan dari Quora, meskipun latar belakang penulis cukup jelas di jawaban diskusi Quora, pada dasarnya Quora belum didukung benar dengan bukti ilmiah. Sebaiknya, setelah membaca jawaban di Quora, kita harus cari tahu si penulis jawaban menyampaikan opininya dari mana sumbernya.

7. Media Berita Online (Not Recommended)

Pemilik Detikcom (maxmanroe)
Sebenarnya, mengutip dari Detikcom, Kompas, atau situs beri online yang diakui Dewan Pers tidak salah. Sebab, terdapat nama dari wartawan penulisnya yang bisa dimintai pertanggung jawaban, ada juga pemred (pemimpin redaksi). Namun, berhubung informasi yang disajikan tidak mendalam dan tidak seperti artikel ilmiah, tidak disarankan untuk digunakan sebagai rujukan kecuali untuk mengutip artikel berita.

Artikel politik atau bencana alam tentu boleh dikutip karena memberitakan kondisi lapangan, namun artikel indepth seperti "Menurut Penelitian, HP Memancarkan Radiasi" tidak disarankan dijadikan rujukan ilmiah.

Sudah jelas bukan? Sehingga, hati-hati kalau bikin kutipan buat makalah Twisters! Jangan sampai kesalahanmu merugikan akademismu! Meskipun standar kampus atau sekolah beda-beda, tetapi tetap gunakan panduan rujukan terlarang itu untuk karya ilmiah.

Sumber-Sumber Terlarang untuk Karya Ilmiah, Makalah, dan Skripsi

Contoh daftar pustaka.
Mungkin beberapa ada yang sudah mengetahui ini, baik dari teman atau bahkan mengalami sendiri saat dunia perkuliahan atau sekolah. Sumber-sumber ini dilarang kebanyakan gara-gara akurasinya diragukan. Apalagi kalau bicara tentang akun-akun anonim.

Terlepas dari informasi yang didapatkan dari sana bagus, bahkan bisa menjadi rujukan satu-satunya, tetap saja sumber-sumber pustaka ini nggak boleh digunakan Twisters. Maksudnya digunakan untuk referensi pustaka di karya ilmiah. Jadi Twisters, kamu harus baca dulu artikel ini sebelum mengutip untuk artikel ilmiah, supaya karya yang kamu capek-capek buat nggak disobek dosen.

1. Wikipedia

Kopi darat Wikipedia di Depok (Wikipedia)


Wikipedia dilarang digunakan sebagai sumber karya ilmiah gara-gara akurasinya diragukan. Maksudnya begini, Wikipedia diedit oleh orang-orang dari latar belakang berbeda dan tidak semuanya merupakan ahli di bidangnya. Editor Wikipedia pada kasus tertentu juga tidak terlalu memperhatikan masalah pada artikel, sehingga banyak artikel Wikipedia bermasalah yang belum terjamah editor.

Wikipedia sendiri juga tidak menyarankan penggunaan ensiklopedia seperti di sini (sumber). Bahkan disebutkan ensiklopedia juga dilarang digunakan, termasuk versi cetak. Kemungkinan karena ilmunya kurang mendalam dan sumbernya tidak disebutkan mendetail. Belum lagi masalah kelengkapan informasi.

Namun, pelarangan Wikipedia sebagai sumber dinilai orang sebagai usaha agar siswa/mahasiswa tidak malas membaca dan bisa mengetahui sumber asli - di Wikipedia pasti terdapat rujukan footnote yang kalau diklik menuju sumber asli seperti buku dan jurnal ilmiah. Sehingga, Wikipedia sebagai rangkuman dan sumber di footnote sebagai rujukan dengan dasar ilmiah kuat.

Yang jelas Twisters, Wikipedia harus menjadi sumber pustaka, kalau skripsi atau makalahnya membahas Wikipedia itu sendiri. Contohnya Pengaruh Wikipedia Terhadap Buku Ensiklopedia.

2. Blog (Blogspot/Wordpress)

Salah satu foto viral sekitar 8 tahun lalu mengenai kemiripan spanduk di atas dengan kata kasar (singindo)

Blog pribadi seperti Wordpress dan Blogspot dilarang untuk digunakan karena alasan mirip dengan Wikipedia. Keduanya sama-sama tidak memiliki landasan akademis cukup kuat untuk digunakan sebagai rujukan online.

Blog malah lebih lemah keabsahannya dari Wikipedia. Wikipedia memiliki sistem kontrol artikel yang bermasalah atau rawan diubah-ubah, juga memiliki pengawasan terhadap artikel yang tidak lengkap sampai terancam dihapus. Sementara blog tidak memiliki sistem tersebut, sehingga kita bisa meragukan keabsahan dari konten blog tersebut. Apalagi zaman sekarang banyak blog abal-abal.

Sekalipun blog tersebut digunakan untuk pengunduhan karya ilmiah dan laporan praktikum, tidak disarankan untuk digunakan. Kalau memang sulit mencari sumber lagi, sebaiknya langsung melakukan pengutipan tanpa embel-embel alamat blog. Hal ini juga bisa dilakukan ke sumber yang berasal dari Scribd atau situs penyedia karya ilmiah lainnya.

Seperti Wikipedia tadi, kita bisa mengecualikan penggunaan blog tersebut kalau memang blog tersebut merupakan objek kajian dari makalah kita, karena jatuhnya mirip kalau kita sedang ingin mengkaji perilaku pengguna media sosial. Pada dasarnya Blogspot dan lain sebagainya juga media sosial kok.

3. Pencarian Google

Halaman lama Google (Wordstream)


Pada zaman Internet baru mewabah di Indonesia, ada beberapa orang mengutip langsung sumber yang diambil dari Google Image dengan (sumber: google). Hal ini tidak boleh dilakukan mengingat Google adalah mesin pencari, bukan penyedia konten.

Kalau mau mengutip sumber yang dicari di Google, biasakan mengklik lihat gambar dan buka halaman webnya. Sehingga, yang menjadi rujukan di karya ilmiah bukan Mbah Google, namun sumber yang kita klik tadi.

4. Forum (Kaskus, Detik, dll)

Overposting Kaskus (Ehikmawan)
Kaskus tidak boleh menjadi rujukan pada suatu karya ilmiah, begitu juga forum lain. Pengawasan terhadap forum-forum ini dan keabsahan informasinya sering dianggap lemah, karena disebarkan oleh orang yang bukan pakar di bidang tersebut. Apalagi kalau sumbernya anonim. Kalau merujuk pada thread di Kaskus, gunakan sumber yang ada dicantumkan oleh thread starter (TS).

Kecuali makalahnya menganalisis debat kusir di Kaskus dengan penggunaan sampel postingan di salah satu thread.

5. Media Sosial (FB, Twitter, Line, dll)

Otak Ajinomoto, salah satu meme teranyar di Line. (ImgRum)


Sekali lagi, ini juga dilarang karena masalah keabsahan informasi dan penyampai yang belum tentu praktisi di bidangnya (kita tidak tahu benar latar belakangnya, berbeda dengan makalah dan jurnal). Sekali lagi, pengecualian jika kita ingin menganalisis perilaku pengguna media sosial, tentu link menuju kiriman di media sosial harus dicantumkan.

6. Media Opini (Kompasiana, Seword, Selasar, Opini.id, Quora, dll)

Quora (Observer.com)
Dengan alasan sama, media opini dilarang digunakan karena sistem moderasi yang tidak terjamin dan keabsahan informasi yang kurang. Selain itu, media opini juga belum tentu ditulis oleh orang yang pakar di bidangnya dan memahami betul apa yang menjadi bidangnya. Media opini juga kurang mendalam untuk pembahasan artikel ilmiah, sehingga tidak cocok dimasukkan sebagai referensi karya ilmiah.

Untuk rujukan dari Quora, meskipun latar belakang penulis cukup jelas di jawaban diskusi Quora, pada dasarnya Quora belum didukung benar dengan bukti ilmiah. Sebaiknya, setelah membaca jawaban di Quora, kita harus cari tahu si penulis jawaban menyampaikan opininya dari mana sumbernya.

7. Media Berita Online (Not Recommended)

Pemilik Detikcom (maxmanroe)
Sebenarnya, mengutip dari Detikcom, Kompas, atau situs beri online yang diakui Dewan Pers tidak salah. Sebab, terdapat nama dari wartawan penulisnya yang bisa dimintai pertanggung jawaban, ada juga pemred (pemimpin redaksi). Namun, berhubung informasi yang disajikan tidak mendalam dan tidak seperti artikel ilmiah, tidak disarankan untuk digunakan sebagai rujukan kecuali untuk mengutip artikel berita.

Artikel politik atau bencana alam tentu boleh dikutip karena memberitakan kondisi lapangan, namun artikel indepth seperti "Menurut Penelitian, HP Memancarkan Radiasi" tidak disarankan dijadikan rujukan ilmiah.

Sudah jelas bukan? Sehingga, hati-hati kalau bikin kutipan buat makalah Twisters! Jangan sampai kesalahanmu merugikan akademismu! Meskipun standar kampus atau sekolah beda-beda, tetapi tetap gunakan panduan rujukan terlarang itu untuk karya ilmiah.

No comments:

Post a Comment